Posted by: Papa Gifta | October 31, 2008

GIFTA anakku

Penantian di Jakarta
Subhanallah, Allahuakbar. Pujian inilah yang terlontar dari mulut Papa dan Mama serta seluruh keluarga besarmu begitu engkau terlahir. Syukur yang tak terhingga karena penantian yang begitu lama, syukur karena Allah telah mempercayakan dan mengamanahkan engkau kepada kami. Kegembiraan begitu terasa dalam hati dan sanubari kami, gembira atas kehadiran engkau akan meramaikan kehidupan kami dengan tangis dan celotehmu di hari-hari mendatang.
Sejak Papa dan Mama menikah 24 Pebruari 2001, harapan selanjutnya adalah dipercaya Allah untuk dikarunia keturunan. Namun belum juga ada tanda-tanda kamu bakal nongol ke dunia. Berbagai upaya kami lakukan, seperti memeriksakan diri ke dokter kandungan. Beberapa dokter dan rumah sakit kami datangi untuk memeriksakan diri, seperti RS St.Carolus Jakarta Pusat, Hermina Jatinegara Jakarta Timur, RS Mitra Keluarga Kemayoran Jakarta Utara hasil petunjuk beberapa kawan dan tetangga. Hasil dari pemeriksaan pada dokter-dokter tersebut menunjukan tidak ada masalah secara medis dengan papa dan mama. Kandungan mama baik tidak mengadung penyakit yang menghambat kehamilan, papa pun demikian kondisi sperma papa baik dan cukup untuk membuahi sel telur.
Beberapa usaha alternative juga kami lakukan. Pernah kami pergi ke Yogyakarta demi mendatangi tempat pengobatan alternative di sana, alamatnya ada di Jl. Pathuk, kalau tidak salah namanya, Pengobatan Ibu Lies. Di sana kami diberi ramuan dan dipijat refleksi. Oh yah tempat itu juga pernah dipakai oleh Ayah dan Ami untuk berobat. Ami dulu sulit hamil anak ke dua setelah mamamu lahir. Yang lucu adalah ketika kami mendatangi salah satu pengobatan/usaha alternative di daerah Cibubur. Kami peroleh informasi tempat ini dari iklan Koran. Bunyi iklannya kurang lebih, “Anda belum memperoleh keturunan ?, kunjungi tempat pengobatan Ki ********************, insyaallah dijamin 100 % berhasil, Alamat Jl. **************************, Cibubur Jakarta Timur”. Atas niat untuk mendapatkan keturunan kami ke alamat yang ditulis di iklan Koran tersebut.
Tempat ini ramai sekali dengan pengunjung/pasien yang sedang mengantri. Tiba giliran papa di panggil oleh Ayah dan Ami, karena ternyata mereka telah mendatangi tempat pendaftaran dan diberikan sedikit penjelasan oleh si Mbak yang ada di meja pendaftaran. Menurut Ayah dan Ami, dibutuhkan uang Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) untuk mendaftar awal. Papa sempat kaget dengan tarif pendaftaran sebanyak itu, namun karena keinginan sudah kuat untuk mencoba usaha alternative ini papa setujui. Akhirnya kami mendaftar. Setelah mendaftar papa dan mama disuruh menunggu sebentar untuk dipanggil oleh ahli pengobatan/usaha ini, “mungkin Ki ******************** yang di koran itu, papa bergumam dalam hati”.
Sekarang Papa dan Mama memasuki sebuah ruangan. Kesan pertama yang muncul dibenak papa adalah ruangannya seram dan menakutkan. Ruangan itu seluruhnya ditempeli kain warna hitam, ada sebuah foto berframe menempel di dinding, entah siapa papa nggak kenal. Orang yang di foto tersebut berpakaian ala dukun atau paranormal di sinetron televisi. Papa juga melihat kepulan asap hasil bakaran dupa dengan wangi khasnya. Seperti cerita sinetron yang kalian pernah tonton di televisi. Papa dan mama dipersilahkan duduk bersila dihadapan ahli pengobatan/usaha ini. Dihadapan papa dan mama ada sebuah meja kecil kalau tidak salah, papa agak lupa. Mungkin ini Ki ****************** yang namanya tercantum di iklan Koran yang papa baca, dia tidak mengenalkan diri. Dia berpakaian mirip dengan foto yang ada di dinding.
“Apa maksud Bapak dan Ibu ke sini”, tanyanya singkat.
Sedikit gugup papa menjawab, “Pak, kami kesini bermaksud melakukan upaya agar kami bisa mendapatkan keturunan, semoga Bapak bisa membantu”.
“Oh begitu.., Insyaallah saya bisa usahakan apa yang diinginkan oleh Bapak dan Ibu, saya bisa jamin akan berhasil. Langkah pertama yang perlu Bapak/Ibu lakukan adalah dengan membayar uang mahar sebesar Rp. 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu), dengan uang mahar tersebut saya akan membuat beberapa ramuan yang diperlukan untuk Bapak dan Ibu nanti minum. Dari hasil minum ramuan tersebut kita akan lihat reaksinya, dan saya akan menentukan langkah selanjutnya”, begitu penjelasannya. “Bagaimana Bapak/Ibu..”, dia melanjutkan pertanyaan.
Dengan agak kaget karena mendengar besarnya uang yang harus diberikan sebagai mahar, papa langsung menjawab, “baik pak, kami akan rundingkan dahulu di rumah”.
“Baiklah kalau begitu, silahkan dirundingkan dahulu”, dia terus menutup pembicaraan.
Papa keluar ruangan itu langsung berpikir untuk tidak akan datang lagi ke tempat itu. Papa ngeri dengan upaya yang akan dilakukan ini, dalam hati muncul pertanyaan apa yang akan dilakukan orang ini. Terlintas di pikiran papa, orang itu akan menggunakan cara-cara aneh, menggunakan jin misalnya.
Tidak ada pembicaraan lanjutan dengan mama, Ayah dan Ami mengenai kelanjutan upaya ini. Papa menutup pembicaraan kelanjutannya karena papa merasa bukan begini caranya. Cara ini keliru dan pasti di murkai Allah.


Responses

  1. wedew dukun’a krng ajar ! haha
    untg gga jdii yaa ? hehe


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: