Posted by: Papa Gifta | December 6, 2008

Bermain di TMII

Hari ini, 20 April 2008 tepat Ulang Tahun Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Gifta diajak Papa dan Mama bermain di TMII. Berikut beberapa foto fotonya.
Read More…

Posted by: Papa Gifta | November 28, 2008

Gifta, Yuk Belajar Baca

Pukul 20.00 Papa selesai mandi dan berpakaian, Mama lagi ke rumah tante Yeni.
“Gifta… belajar lagi yuk, kita lanjutkan pelajaran yang kemarin” Papa mengajak Gifta yang sedang bermain mobilan di atas tempat tidur.

Sekarang Gifta berumur 4,5 tahun, sekolah TK Kecil, TK Aisyiah Muhammadiyah Matraman Jakarta Timur.

Kami, Papa dan Mama memang sedang berkonsentrasi untuk mengajari Gifta membaca dan menulis. Tuntutannya dilatarbelakangi keinginan Papa dan Mama agar GIfta cepat dapat membaca dan tidak ketinggalan dibanding teman-teman lain di Sekolah, walaupun motif seperti ini menurut Ayah Edi dalam blognya www.ayahkita.blogspot.com tidak tepat. Mengajari anak membaca sebaiknya atas dasar anak menyukai dan gemar untuk membaca dan mengetahui apa manfaat dari membaca, begitu pendapat Ayah Edi. Bahkan Ayah Edi menyuguhkan tulisan tentang hasil penelitian yang menyatakan bahwa anak yang diajari membaca umur 7 – 8 tahun di masa depan menunjukan perkembangan yang lebih baik dibanding anak yang diajari membaca sejak dini. Ini bertentangan dengan latar belakang metode Glen Domman yang menyarankan Papa dan Mama mengajari anak membaca sejak dini. Diskusi tentang dua pendapat ini akan Papa ungkap pada tulisan berikutnya.

“Gifta… yuk kita mulai belajar…” Papa mengulangi ajakan.
Gifta kemudian lari keluar kamar, Papa mengikuti dan hendak mengambil buku panduan belajar membaca milik Gifta. Papa mengatur meja untuk memulai dan buku sudah ada di tangan Papa.
“Aa…….” Gifta lari lagi ke kamar. Papa ulangi ajakan sekali lagi dengan nada menekan, “Ayo Gifta…!!”.
“Tadi udah Papa, Gifta belajar diajari Mama….waktu Papa kerja”

Mendengar alas an ini Papa jadi marah dan tidak percaya pada Gifta. Langsung Papa pegang dua tangan Gifta seperti mencengkeram. “Gifta…. !! benar kamu udah belajar tadi di ajari Mama…!?, jawab !… Gifta jangan bohong yaa.. Papa tidak suka Gifta berbohong, awas nanti Papa tanyakan ke Mama. Kalo Gifta bohong papa ikat lagi kaya kemaren…”. Seberonndong pertanyaan dan ancaman Papa sampaikan, membuat Gifta terdiam. Beberapa kali Papa ulangi pertanyaan dan ancaman yang sama”.

Gifta sekali menjawab dengan anggukan. “Benar nggak, jawab !! Papa nggak mau Gifta hanya mengangguk !” Papa menekan pertanyaan hendak mendapat jawaban yang tegas dari ucapan Gifta.

Gifta terdiam dan bola matanya menerawang ke sana-kemari. Papa pikir Gifta sedang bingung karena telah berbohong. Pertanyaan Papa ulangi 2-3 kali, sekali Gifta jawab dengan gelengan. Gelengan Gifta membuat Papa marah dan mulai menyentil jari Gifta dengan telunjut Papa. “Jawab Gifta, Benar apa Tidak Gifta belajar tadi dan diajari Mama ?!”, beberapa kali Papa ganti kalimat pertanyaan dengan harapan Gifta mengerti pertanyaannya. Tapi tetap Gifta terdiam seperti kebingungan.

Assalaamu’alaikum…., Mama datang. Langsung Papa Tanya pada Mama, “Mama…. Benar nggak tadi Gifta belajar membaca waktu Papa kerja dan di ajari sama Mama ?”

“Ia… tapi cuma sebentar….”.

“ O o ooooooo…”, dalam hati Papa.

Papa kaget dengan jawaban Mama, tapi juga senang mendengar jawaban tersebut.
Papa langsung memeluk Gifta. “Gifta… Papa tadi Tanya, karena Papa ingin Gifta jawab dengan tegas. Benar atau Tidak Gifta Belajar dengan Mama dan tidak berbohong, sekarang Papa dapat jawabannya dari Mama. Gifta ternyata tidak berbohong, maafin Papa yaaa Gifta, Papa tadi tidak percaya pada Gifta dan telah menyakiti Gifta”.

“Aa……..a..aauuuuuua….aaauuuuuu” langsung pecah tangis Gifta. Tangis yang ingin menunjukkan kepada Papa bahwa Papa salah menilai Gifta, tangis hendak memarahi Papa tapi tidak karena Papa telah meminta maaf. Tangis yang membuat Papa semakin sayang sama Gifta Anakku.

Posted by: Papa Gifta | November 24, 2008

Diam…. !!

Sudah empat atau lima kali Papa gebuk pantat dan kaki Gifta tapi tetap tidak mau diam dari tangisanmu. Papa makin emosi dan marah, papa lanjutkan dengan menekan mulut kamu dengan tangan dan memukul tangan dan kaki, tapi kamu terus saja menangis. Kemarahan Papa betul-betul memuncak hingga beberapa kali bentakkan dengan suara keras keluar daru mulut Papa, “Diaaaam !!”, teriak Papa.
Semakin sering papa bentak dan pukul kamu malah tak bergeming, terus menangis dan menangis. Puncak kemarahan papa, papa keluarkan ancaman. “Gifta…, Papa nggak mau sayang Gifta lagi” kalimat ini papa ucapkan sambil meninggalkan Gifta sendirian di kamar, “Ya sudahlah, Papa nggak mau sayang Gifta lagi”. Papa keluar dari kamar hendak banting pintu.
Tapi Papa kaget, kamu malah berteriak dengan keraaaaaas sekali sambil memanggil, “Papa….”. Papa tidak jadi banting pintu dan lalu mendekati kamu. “Papa nggak mau sayang Gifta ah…”, Papa ulangi ancaman itu, kamu respon dengan teriakan keras lagi.
Papa akhirnya tahu cara untuk mengakhiri keributan ini. “Gifta… diam kalo mau disayang Papa”, tangisan kamu mulai merendah. Papa ulangi lagi, “Diam Gifta, kalo mau disayang Papa… Diam !”, Papa agak membentak. Sekejap lalu kamu terdiam dan tangisan kamu berhenti. Papa lega, “Kalo Gifta diam baru papa lepas lakban dan ikatan di kaki Gifta”. Kamu terdiam dan Papa langsung membuka lakban dan ikatan di kaki Gifta. Eeh.. sebelum berhenti kamu sempat batuk dan muntah di kasur sampai baju, celana dan seprey kotor.
Papa langsung bawa kamu ke kamar mandi untuk dimandiin.

Posted by: Papa Gifta | November 20, 2008

TOM and JERRY

“Yaaa… habis.. Papa siiiiih….diganti, filmnya kok abis…”
“Ya udah besok lagi ada kok”. Papa menyambut rengekan Gifta saat film Tom and Jerry yang ditonton berakhir.

“nga mau, aaa aaaa mau nonton lagi…”
“filmnya udah habis Gifta, bukan papa yang ganti channelnya…”
“aaaa aaaaa papa ngaa mau, aku mau nonton Tom and Jerry..”
“udah habis Gifta filmnya !!” sambil narik napas Papa mulai emosi

“Kok anak ini ga ngerti ya, kalo program tvnya abis. Bukan karena papa yang ganti channel. Nakal benar, dasar anak bodoh” luapan emosi papa dalam hati.

Dalam keadaan papa emosi ini, Gifta makin tidak mengerti dan tetap ngotot meminta film Tom and Jerry tertayang di TV. Papa Gifta makin marah. Rengekan dan jeritan Gifta minta filmnya ditayang terus berlanjut. Papa maaaaaaaaaaaaaakin emosi. Papa bawa Gita ke kamar, kakinya diikat dengan ular-ularan mainannya, tangannya diikat dengan lakban, mulutnya dililitin juga dengan lakban. Gifta menangis dengan sangat kencang, sambil meronta, kaki dan tangannya di putar-putar hendak melepaskan ikatan dan lakban.

Papa pukul kaki dan pantat Gifta dengan telapak tangan sangat keras. Gifta makin meronta. Pukulan ke pantat dan kaki papa sertai dengan bentakan keras untuk berhenti menangis. Gifta bukannya berhenti malah tangisan makin keras dan nyaring.

Posted by: Papa Gifta | November 20, 2008

Gifta Anakku

Penantian di Karawang – Jawa Barat
Hampir tiga tahun penantian di Jakarta terus berlanjut.  Kemudian papa pindah tugas ke daerah Karawang Jawa Barat. Di Karawang upaya pemeriksaan dan pengobatan dilanjutkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang, di sana kami memeriksakan pada dr. Saleh namanya. Beberapa kali pertemuan dilaksanakan dengan dr. Saleh. Hasilnya sama, tidak ada masalah secara medis dengan kondisi papa dan mama. Sampai terlontar kalimat dari dr. Saleh, “Nah yang begini nih kasus yang sulit, tidak ada masalah medis tetapi belum juga hamil”. Pernyataan dokter ini bukan membuat kami putus asa, malah kami bersyukur karena tidak ada masalah secara medis dengan kami. Kami kemudian menyimpulkan keputusan Allah yang akan menentukan kapan kami akan diberikan keturunan. Walau demikian upaya meminum obat penyubur dan vitamin tetap kami lakukan.
Untuk meramaikan keadaan rumah kemudian muncul ide mama untuk memelihara hewan piaraan. Bagaimana tidak, setelah papa berangkat kerja mama praktis sendirian di rumah tanpa teman. Hanya TV sebagai pelampiasan. Beberapa kali kesempatan mama menangis menghadapi cobaan ini. Papa sedapat mungkin menyembunyikan keresahan dan kesedihan. Hewan peliharaan yang di pilih adalah monyet. Monyetnya diberi nama Jecko.
Setiap hari Jecko menjadi teman main mama. Jecko diberi makan dan minum yang sehat, seperti roti dan susu, dimandiin dan kandangnya dibersihkan setiap hari. Hampir setahun Jecko jadi mainan mama dalam penantian Gifta. Kemudian Gifta, kamu datang membawa kegembiraan dan kebahagiaan buat kami.

Selamat datang Gifta, anakku.

Posted by: Papa Gifta | November 14, 2008

Eko Pratomo Suyatno (Direktur Fortis Asset Management)

Belajar dari Kisahnya

Kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV) Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT???*

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana diIndonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.
Silahkan baca dan dihayati.*

*MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT** – - -

Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya….. istri & calon istri
Juga boleh…Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan

terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran menyuapi dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.

Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka,sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu

tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak…….

bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2″sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya,kapan bapak menikmati masa tua bapak,dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya.”Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…..tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian..sejenak kerongkongannya tersekat,…kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun.

Coba kalian Tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV

swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan

kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi(memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya,apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya.Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

krshare.com

Posted by: Papa Gifta | November 3, 2008

Pustaka Papa

Buku-buku berikut ini pernah Papa baca. Ada buku yang dibaca habis halamannya, ada juga yang dibaca cuma yang Papa anggap perlu untuk dibaca. Buku-buku ini masih tersimpan rapih di rumah, nanti kalau kamu mau baca tinggal ambil dan pilih yang kamu minati.

Kategori Bisnis dan Manajemen :
1. Pedoman Pelaksanaan Gugus Kendali Mutu. Meningkatkan Produktifitas Melalui Daya Manusia. 1993. Sud Ingle. Terjemahan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta
2. Meningkatkan Penjualan 150 % Gaya Jepang. Seri Manajemen No. 171. 1996. Terjemahan. Katsutoshi Kasamaki. LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) dan Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta
3. Studi Kelayakan Bisnis. Manajemen, Metoda dan Kasus. 1997. Drs. Husein Umar, SE., MM., MBA. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
4. Manajemen Strategik, Pengantar Proses Berpikir Strategik. 1996. Agustinus Sri Wahyudi, SE., MBA. Binarupa Aksara. Jakarta
5. Strategic Customer Alliances. Strategi Kemitraan Pelanggan. 1996. Terjemahan. Ken Burnett. PT Elex Media Komputindo. Jakarta
6. The Biggest Mistakes Manager Make and How to Correct Them. 1973. James K.Van Fleet. Darker Publishing Company, Inc. West Nyack, NY
7. Bekerja Sebagai Motivasi Hidup. 1998. Genta Ogami. Terjemahan. PT Gee Cosmos Indonesia. Jakarta
8. Trademark Problems and How to Avoid Them. 1973. Sidney A. Diamond. Crain Communications, Inc. Chicago. Illinois
9. Program Efisiensi Pribadi. Bagaimana Mengorganisir Diri Anda Untuk Bisa Bekerja Lebih Efektif dan Efisien. 1998. Kerry Gleeson. Terjemahan. Arcan. Jakarta
10. Fundamentals of Selling. 1976. John W. Wingate. South Western Publishing Co. Cincinnati, Ohio
11. The Welch Way. 24 Tips Praktis Dari CEO Terbesar Dunia. Buku Panduan Bagi Para Profesional Untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan. 2002. Terjemahan. Jeffrey A. Krames. PT Bhuana Ilmu Populer. Jakarta
12. Managing Your Self. Management by Detached Involvement. Developmental Management. 1994. Jagdish Parikh. Blackwell Publishers, Inc. USA
13. Sukses Sebagai Manager Profesional Tanpa Gelar MM atau MBA. 2002. Dr. Achmad S. Ruky. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
14. 135 Sikap Positif Karyawan Berprestasi. Self Improvement Series. 2004. Soejitno Irmin. Setia Media. Jakarta
15. Motivation Games. Untuk Pelatihan Manajemen. 2006. Adi Soenarno. Penerbit Andi. Yogyakarta

Kategori Keagamaan :
1. Tugas Cendekiawan Muslim. 1994. Dr. Ali Shariati. Terjemahan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
2. Para Perintis Zaman Baru Islam. 1996. Ali Rahmema. Terjemahan. Penerbit Mizan. Bandung
3. Laa Ilaaha ilallah, Sebagai Aqidah dan Sistem Kehidupan. 1996. Muhammad Quthb. Terjemahan. Robbani Press. Jakarta
4. Intelektual Muhammadiyah (Menyongsong Era Baru). 1995. Kuntowijaya, dkk. Penerbit Mizan. Bandung
5. Cakrawala Islam, Antara Cita dan Fakta. 1997. M. Amien Rais. Penerbit Mizan. Bandung
6. Do’a Ajaran Ilahi. Kumpulan Do’a dalam Al Quran beserta Tafsirnya. 2002. Jejen Musfah dan Anis Masykhur. Mizan Media Utama. Bandung

Kategori Politik dan Kenegaraan :
1. Membaca Pikiran Gus Dur dan Amien Rais Tentang Demokrasi. 1999. Umaruddin Masgar. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
2. Amien Rais Sang Demokrat. 1998. Ir. M. Najib, MsC, dkk. Gema Insani Press. Bandung
3. Pilar-Pilar Reformasi Ekonomi Politik. Usaha Memahami Krisis Ekonomi dan Menyongsong Indonesia Baru. 1999. Didin S. Damanhuri. CIDES dan Pustaka Hidayah. Jakarta
Kategori Novel dan lain-lain
1. Supernova. Episode : AKAR. 2003. Dee. Truedee. Bandung
2. Supernova. 2002. Dee. Truedee. Bandung
3. Chocolate for A Womans Dreams. 77 Kisah Yang Akan Membuat Mimpi Anda Terwujud. 2001. Kay Allenbauh. Terjemahan. PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia. Jakarta
4. Test Bakat, Minat, Sikap dan Personaliti, MMPI-DG. 2005. H. Yul Iskandar, MD., DST., MBAP., PhD. Yayasan Dharma Graha Jakarta
5. Follow Me. Bahasa Inggris Bagi Pemula. 1997. Barry Tomalin. Terjemahan. PT Gramedia Pustaka Utama – BBC London. Jakarta
6. 20 Tips Komunikasi. Panduan 30 Menit Membangun Hubungan Yang Lebih Baik. 1998. Terjemahan. Doyle Barnet. PT Kentindo Soho. Malang.
7. Rahasia Membangun Percaya Diri. 2004. Drs. Hendra Surya. PT Elex Media Komputindo. Jakarta
8. Larung. 2001. Ayu Utami. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) – KALAM. Jakarta
9. Pedoman Sehat Tanpa Obat. Senam Ergonomik dan Pijat Getar Syaraf. 2004. Drs. Madyo Wratsongko, MM. PT Elex Media Komputindo. Jakarta
10. Renungan Perkawinan. 1999. Alex Sobur dan Setiawan. Puspa Swara. Jakarta
11. Negosiasi dengan Kehidupan. Seputar Hubungan dengan Lawan Jenis. 1993. Hendrawan Nadesal. Puspa Swara. Jakarta
12. Jakarta Undercover, Sex ‘n the City. 2002. Moammar Emka. Galang Press. Yogyakarta
13. Practical Business Correspondence. 1997. Cyssco. Dhanny R. Kesaint Blanc. Jakarta
14. Chicken Soup for The Womans Soul. 77 Kisah untuk Membuka Hati dan Mengobarkan Kembali Semangat Wanita. 1999. Terjemahan. Jack Canfield, dkk. PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia. Jakarta
15. Boost Your Intelligence. Pacu EQ dan IQ Anda. 2001. Terjemahan. Harry Alder. Penerbit Erlangga. Jakarta
16. 99 Untuk Tuhanku. 1983. Emha Ainun Najib. Penerbit Pustaka. Bandung
17. Percaya Cinta Percaya Keajaiban. Serangkaian Renungan Penuh Inspirasi Bersama. 2001. Gede Prama. PT Elex Media Komputindo. Jakarta

Kategori Ilmu Komputer :
1. Internet Untuk Orang Awam. 2006. Bagus Pratama. Maxikom. Palembang
2. Blogspot. Seri Penuntun Praktis. 2008. Dominikus Juju dan Mata Maya Studio. PT Elex Media Komputindo. Jakarta

Posted by: Papa Gifta | November 3, 2008

Kado ISTIMEWA

Kado ini Papa terima dari orang lain yang sayang sama Papa, kado inipun Papa akan berikan padamu Gifta. Terimalah kado ini dengan hati dan pikiran yang terbuka, dan bagikan juga kado ini kepada siapapun yang engkau sayangi.

Delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang kita sayangi.

1. Kehadiran.
Kehadiran orang yang dikasihi adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir lewat surat, telepon, foto, atau fax. Namun dengan berada di sampingnya, Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagiaan.

2. Mendengar.
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan Anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasih pun akan terdengar manis baginya.

3. Diam.
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalaya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasehati, mengatur, mengkritik, bahkan mengomel.

4. Kebebasan.
Mencintai seseorang bukan berarti member kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupannya. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “kamu bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. Keindahan.
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah. Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.

6. Tanggapan Positif.
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya ada pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir Anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya? Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan.

7. Kesediaan Mengalah.
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi pertengkaran yang hebat. Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado “kesediaan mengalah”. Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

8. Senyuman.
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali Anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?

Posted by: Papa Gifta | October 31, 2008

GIFTA anakku

Penantian di Jakarta
Subhanallah, Allahuakbar. Pujian inilah yang terlontar dari mulut Papa dan Mama serta seluruh keluarga besarmu begitu engkau terlahir. Syukur yang tak terhingga karena penantian yang begitu lama, syukur karena Allah telah mempercayakan dan mengamanahkan engkau kepada kami. Kegembiraan begitu terasa dalam hati dan sanubari kami, gembira atas kehadiran engkau akan meramaikan kehidupan kami dengan tangis dan celotehmu di hari-hari mendatang.
Sejak Papa dan Mama menikah 24 Pebruari 2001, harapan selanjutnya adalah dipercaya Allah untuk dikarunia keturunan. Namun belum juga ada tanda-tanda kamu bakal nongol ke dunia. Berbagai upaya kami lakukan, seperti memeriksakan diri ke dokter kandungan. Beberapa dokter dan rumah sakit kami datangi untuk memeriksakan diri, seperti RS St.Carolus Jakarta Pusat, Hermina Jatinegara Jakarta Timur, RS Mitra Keluarga Kemayoran Jakarta Utara hasil petunjuk beberapa kawan dan tetangga. Hasil dari pemeriksaan pada dokter-dokter tersebut menunjukan tidak ada masalah secara medis dengan papa dan mama. Kandungan mama baik tidak mengadung penyakit yang menghambat kehamilan, papa pun demikian kondisi sperma papa baik dan cukup untuk membuahi sel telur.
Beberapa usaha alternative juga kami lakukan. Pernah kami pergi ke Yogyakarta demi mendatangi tempat pengobatan alternative di sana, alamatnya ada di Jl. Pathuk, kalau tidak salah namanya, Pengobatan Ibu Lies. Di sana kami diberi ramuan dan dipijat refleksi. Oh yah tempat itu juga pernah dipakai oleh Ayah dan Ami untuk berobat. Ami dulu sulit hamil anak ke dua setelah mamamu lahir. Yang lucu adalah ketika kami mendatangi salah satu pengobatan/usaha alternative di daerah Cibubur. Kami peroleh informasi tempat ini dari iklan Koran. Bunyi iklannya kurang lebih, “Anda belum memperoleh keturunan ?, kunjungi tempat pengobatan Ki ********************, insyaallah dijamin 100 % berhasil, Alamat Jl. **************************, Cibubur Jakarta Timur”. Atas niat untuk mendapatkan keturunan kami ke alamat yang ditulis di iklan Koran tersebut.
Tempat ini ramai sekali dengan pengunjung/pasien yang sedang mengantri. Tiba giliran papa di panggil oleh Ayah dan Ami, karena ternyata mereka telah mendatangi tempat pendaftaran dan diberikan sedikit penjelasan oleh si Mbak yang ada di meja pendaftaran. Menurut Ayah dan Ami, dibutuhkan uang Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) untuk mendaftar awal. Papa sempat kaget dengan tarif pendaftaran sebanyak itu, namun karena keinginan sudah kuat untuk mencoba usaha alternative ini papa setujui. Akhirnya kami mendaftar. Setelah mendaftar papa dan mama disuruh menunggu sebentar untuk dipanggil oleh ahli pengobatan/usaha ini, “mungkin Ki ******************** yang di koran itu, papa bergumam dalam hati”.
Sekarang Papa dan Mama memasuki sebuah ruangan. Kesan pertama yang muncul dibenak papa adalah ruangannya seram dan menakutkan. Ruangan itu seluruhnya ditempeli kain warna hitam, ada sebuah foto berframe menempel di dinding, entah siapa papa nggak kenal. Orang yang di foto tersebut berpakaian ala dukun atau paranormal di sinetron televisi. Papa juga melihat kepulan asap hasil bakaran dupa dengan wangi khasnya. Seperti cerita sinetron yang kalian pernah tonton di televisi. Papa dan mama dipersilahkan duduk bersila dihadapan ahli pengobatan/usaha ini. Dihadapan papa dan mama ada sebuah meja kecil kalau tidak salah, papa agak lupa. Mungkin ini Ki ****************** yang namanya tercantum di iklan Koran yang papa baca, dia tidak mengenalkan diri. Dia berpakaian mirip dengan foto yang ada di dinding.
“Apa maksud Bapak dan Ibu ke sini”, tanyanya singkat.
Sedikit gugup papa menjawab, “Pak, kami kesini bermaksud melakukan upaya agar kami bisa mendapatkan keturunan, semoga Bapak bisa membantu”.
“Oh begitu.., Insyaallah saya bisa usahakan apa yang diinginkan oleh Bapak dan Ibu, saya bisa jamin akan berhasil. Langkah pertama yang perlu Bapak/Ibu lakukan adalah dengan membayar uang mahar sebesar Rp. 2.500.000 (dua juta lima ratus ribu), dengan uang mahar tersebut saya akan membuat beberapa ramuan yang diperlukan untuk Bapak dan Ibu nanti minum. Dari hasil minum ramuan tersebut kita akan lihat reaksinya, dan saya akan menentukan langkah selanjutnya”, begitu penjelasannya. “Bagaimana Bapak/Ibu..”, dia melanjutkan pertanyaan.
Dengan agak kaget karena mendengar besarnya uang yang harus diberikan sebagai mahar, papa langsung menjawab, “baik pak, kami akan rundingkan dahulu di rumah”.
“Baiklah kalau begitu, silahkan dirundingkan dahulu”, dia terus menutup pembicaraan.
Papa keluar ruangan itu langsung berpikir untuk tidak akan datang lagi ke tempat itu. Papa ngeri dengan upaya yang akan dilakukan ini, dalam hati muncul pertanyaan apa yang akan dilakukan orang ini. Terlintas di pikiran papa, orang itu akan menggunakan cara-cara aneh, menggunakan jin misalnya.
Tidak ada pembicaraan lanjutan dengan mama, Ayah dan Ami mengenai kelanjutan upaya ini. Papa menutup pembicaraan kelanjutannya karena papa merasa bukan begini caranya. Cara ini keliru dan pasti di murkai Allah.

Posted by: Papa Gifta | October 31, 2008

SYUKUR (dari teman 2)

Saya Bersyukur Untuk Istri,
Yang memberiku makanan yang sama dengan malam kemarin,
Karena Istriku DIRUMAH malam ini dan TIDAK bersama orang lain …

BERSYUKUR UNTUK SUAMI,
Yang duduk bermalasan di Sofa Sambil baca koran males-malesan, Karena doi bersama aku dirumah dan Tidak keluyuran .. apalagi ke Bar malem ini.

Bersyukur untuk anakku,
Yang selalu PROTES dirumah Karena artinya … dia sedang dirumah dan TIDAK sedang keluyuran di jalanan

BERSYUKUR untuk Pajak,
yang saya bayar karena artinya … Saya bekerja … atau Punya penghasilan …

BERSYUKUR untuk rumah yang berantakan.. .
Karena artinya saya masih punya kesempatan melayani orang-orang yang mengasihi saya …

BERSYUKUR untuk baju yang mulai kesempitan,
karena artinya … Saya bisa lebih dari cukup untuk makan …

BERSYUKUR pada Bayangan yang mengikutku,
Karena artinya …Aku tidak disilaukan oleh Matahari …

BERSYUKUR untuk Kebun yang harus dirapikan dan perkara yang harus dibetulkan dirumah .. !! Karena artinya … saya punya Rumah !!!

BERSYUKUR akan berita orang yang lagi DEMO. karena artinya
Kiat masih PUNYA kebebasan untuk berbicara

BERSYUKUR untuk dapat tempat parkir yang paling jauh …
Karena artinya saya masih bisa berjalan kaki, dan diberkati dengan kendaraan yang saya bisa bawa …

BERSYUKUR pada wanita yang duduk dibelakangku yang nyanyi FALS Karena artinya …. saya masih bisa mendengar

BERSYUKUR untuk Cucian …
Karena artinya … saya punya baju yang bisa dipakai …

BERSYUKUR karena kepenatan dan kelelahan kerja setiap hari …
karena artinya … SAYA mampu bekerja keras setiap hari …

BERSYUKUR mendengar Alam yang mengganggu di pagi hari …
Karena artinya … SAYA MASIH HIDUP .

« Newer Posts - Older Posts »

Categories